Sejuta Potensi Fakfak

Mendengar Propinsi Papua Barat disebut dengan kaitannya ke parawisata, yang terlintas di pikiran banyak orang umumnya nama Raja Ampat. Kabupaten yang dikenal sebagai surga bawah laut dan menjadi tujuan wisatawan dari seluruh penjuru dunia. Namun Papua Barat memiliki banyak pesona lain di luar Raja Ampat, di antaranya Kabupaten Fakfak.

Kota Fakfak sendiri merupakan kota kecil di pesisir selatan Papua Barat. Topografinya yang terdiri dari bukit, tanjung dan laut menghasilkan pemandangan yang menarik. Naik turun perbukitan yang terjal kita akan disuguhi pemandangan kota dari atas. Kemudian tebing dan pepohonan di sebelah kiri jalan, sementara tanjung atau lautan di sebelah kanan jalan. Panorama variatif ini membuat kami tidak ingin melewatkan perjalanan dalam mobil dengan tertidur. Panorama yang sayang untuk dilewatkan.

Tidak jauh dari kota, sekitar 30 menit dengan mobil, terdapat Air Terjun Madedred. Air terjun dapat dicapai dengan trekking selama kurang lebih 2 jam dari hulu Sungai Sakartemin. Sayang sekali kami tidak berkesempatan sampai ke air terjun dikarenakan keterbatasan waktu. Alhasil kami hanya menikmati panorama hulu sungai dan berbincang-bincang dengan warga setempat mengenai kole-kole, sebutan untuk perahu kayu tradisional.

Sedikit meluncur ke arah selatan lagi, kita akan menemukan Pantai Pasir Putih. Pantai ini merupakan pantai wisata yang ramai dikunjungi saat akhir pekan. Meskipun mengunjungi pantai ini tidak dikenakan biaya retribusi, warga setempat rajin membersihkan pantai setiap menjelang akhir pekan. Pada hari biasa, kita dapat menemukan anak-anak setempat bermain riang sepulang sekolah. Mereka bermain sepeda, jungkir-balik di pasir, mendayung kole-kole kecil, atau berenang di laut.

Sedikit lebih jauh, sekitar 2 jam dari Fakfak, kita dapat sampai di Distrik Kokas. Menuju daerah ini kita akan melewati Air Terjun Kayuni yang dapat kita foto dari jembatan jalanan. Sungai Kayuni digunakan masyarakat setempat untuk memenuhi kebutuhan air minum mereka.

Begitu sampai kota Kokas, kita akan melewati suatu gua di sebelah kiri dan monumen meriam di dekat pelabuhan. Keduanya adalah sisa peninggalan tentara Jepang semasa Perang Dunia ll ketika Kokas menjadi markas besar mereka sekitar tahun 1942-1945. Gua berbentuk terowongan yang bercabang dan pada masa itu digunakan sebagai tempat perlindungan. Sekarang gua tersebut selain sebagai obyek wisata juga sering digunakan sapi untuk berteduh dan mengademkan diri dari cuaca panas.

Menaiki longboat dari pelabuhan Kokas, kita akan sampai di Kampung Patimburak dalam waktu 20 menit. Di kampung ini terletak Masjid Wertuar yang berdiri sejak 1870, konon merupakan masjid tertua di Papua. Arsitektur bangunannya yang merupakan perpaduan antara masjid dengan gereja seperti melambangkan filosofi kerukunan beragama di kampung tersebut. Masjid Wertuar masih digunakan sebagai tempat beribadat sampai saat ini. Memasuki masjid, hawa terasa teduh meskipun di luar sinar matahari terik.

Sekitar 30 menit lagi dengan longboat, kita akan melewati gugusan pulau karang diselimuti pepohonan hijau muda. Di bawah kita air biru kehijauan tampak bening, di atas kita langit biru dihiasi gumpalan awan putih. Salah satu situs terkenal di daerah ini adalah terdapatnya lukisan tapak tangan dan motif gambar seperti matahari, ikan, dan simbol lainnya. Cap tangan serta motif berwarna merah seperti darah terlukis di bebatuan tebing pulau karang, dan diduga merupakan peninggalan jaman prasejarah. Tapak tangan serupa juga ditemukan di tebing batu Raja Ampat dan Kaimana.

Selain obyek-obyek wisata di atas, Fakfak memiliki beberapa pantai dan pulau yang menarik untuk dijelajahi lebih lanjut. Terdapat beberapa air terjun, termasuk air terjun yang airnya jatuh ke laut. Namun saat ini akses ke air terjun tersebut hanya melalui udara atau melalui kapal dari kejauhan. Bawah air Fakfak juga menarik untuk dijelajahi. Dalam ekspedisi Conservation International bulan April sampai Mei 2006 ditemukan lebih dari 50 spesies baru di sekitar perairan Teluk Cenderawasih, Kaimana, dan Fakfak. Bisa jadi kehidupan bawah laut dan pesona Fakfak tidak kalah menarik dengan Raja Ampat.

Fakfak, 13 Oktober 2010.

This slideshow requires JavaScript.

[Tulisan dan foto dibuat dalam rangka Program Aku Cinta Indonesia (ACI) Detikcom 2010]

Advertisements