Mengintip Sekilas Ambon dari Balik Jendela Angkot

Tiba saatnya hari ini. Kamis, tanggal 14 Oktober 2010 kami dijadwalkan untuk terbang dari kota Fakfak ke Sorong untuk kemudian menuju Raja Ampat. Sore hari kami sudah akan berada di kepulauan Raja Ampat. Sudah terbayang di mata, sore hari yang indah berada di beranda cottage yang teduh sambil menikmati deburan ombak di depan mata. Atau bahkan langsung menyempatkan diri untuk snorkeling di air yang bening setibanya di sana. Tidak sabar rasanya untuk cepat tiba. Namun harapan tersebut pupus begitu tahu bahwa penerbangan Fakfak-Sorong di hari itu dibatalkan, dan penerbangan berikutnya adalah 2 atau 5 hari lagi!

Dengan segenap usaha dan keberuntungan, kami akhirnya berhasil mendapatkan penerbangan untuk keluar Fakfak hari itu dengan pesawat rute Fakfak-Ambon. Penerbangan ke Sorong akan dilanjutkan dari Ambon esok paginya.

Bandara Pattimura, Ambon

Bandara Pattimura, Ambon

Sore hari itu kami telah berada di Bandara Pattimura dan berhasil menemukan homestay yang berjarak sekitar 5 menit jalan kaki dari bandara. Murah, bersih, rapih, dan nyaman. Penginapan Dahlia namanya. Memutuskan untuk sedikit melihat kota Ambon, kami menaiki angkot merah yang lewat di depan bandara. Cukup dengan Rp.5,000 per orang sudah bisa sampai kota dalam waktu 1 jam. Untuk mobilisasi di dalam kota lalu harus pindah ke angkot berwarna kuning. Transportasi yang mudah, murah, dan meriah untuk melihat sekilas Ambon.

Penginapan Dahlia

Penginapan Dahlia

Kota Ambon terlihat sebagai kota yang sangat rapih dan teduh di pesisir teluk. Dengan angkot merah dari bandara kita akan mengitari teluk untuk mencapai kota. Di sebelah kanan jalan ditemani pemandangan laut beserta rumah-rumah berbukit di teluk sisi seberang.

Patung Kristina Martha Tiahahu

Patung Kristina Martha Tiahahu

Matahari Terbenam di Teluk Ambon

Matahari Terbenam di Teluk Ambon

Kota Ambon menjelang Malam

Kota Ambon menjelang Malam

Setelah puas menikmati sore dengan kopi sambil disuguhi pemandangan sunset kota Ambon di Cafe Panorama, kami memutuskan pulang. Tanpa bertanya tujuan, kami langsung menaiki angkot kuning dengan keyakinan akan melewati perempatan tujuan kami untuk kemudian lanjut dengan angkot merah. Salah!

Jam 9 malam hari itu kami terdampar di terminal angkot di Ambon, Terminal Mardika. Angkot merah arah bandara sudah tidak beroperasi. Ditemani lagu Poco-Poco remix yang berkumandang keras dari ruko di belakang kami, kami mencari alternatif untuk menyewa angkot. Alternatif terbaik mengingat sewa ojek atau taksi akan terlalu mahal karena jarak yang cukup jauh. Masalahnya kami tidak melihat ada angkot merah di terminal sementara angkot kuning tidak boleh beroperasi di luar kota.

Rupanya keberuntungan masih berada di pihak kami karena setelah beberapa lama kami menemukan supir angkot merah yang berbaik hati mau di-charter untuk mengantarkan kami pulang. Angkot yang sama yang membawa kami ke kota sore tadi. Dalam perjalanan pulang dengan angkot kami bahkan sempat melewati Pasar Mardika yang hidup 24 jam, yang memang letaknya bersebelahan dengan terminal. Dan petualangan singkat kami di Ambon berakhir dengan menikmati sejuknya malam di teras depan Penginapan Dahlia disertai kedipan bintang-bintang di langit.

Meskipun harus merelakan kehilangan 1 hari di Raja Ampat, namun saya merasa bersyukur atas hari ini. Karena saya mendapatkan kesempatan untuk pertama kalinya menjejakkan kaki di tanah Maluku. Karena saya mendapat bonus menikmati matahari terbenam di kota Ambon. Karena mendapatkan pengalaman mengitari kota dengan angkot. Melihat sekilas kehidupan terminal angkot serta pasar Mardika di malam hari. Merasakan keramahan orang-orang yang meladeni komentar dan pertanyaan kami di angkot, serta kebaikan supir angkot yang rela bolak balik kota-bandara-kota demi mengantar kami pulang. Saya pasti akan kembali. Sampai perjumpaan berikutnya, Ambon!

Sampai Jumpa Lagi, Angkot Merah!

Sampai Jumpa Lagi, Angkot Merah!

[Tulisan dan foto dibuat dalam rangka Program Aku Cinta Indonesia (ACI) Detikcom 2010]

Advertisements