Menjaga Surga Titipan

Raja Ampat. Pernahkah mendengar nama tersebut? Mungkin belum seterkenal Bali atau bahkan Lombok, namun Raja Ampat dikenal oleh para ilmuwan dan penyelam di dunia sebagai nirwana bawah laut.

Dengan posisi geografisnya yang terletak di jantung segitiga karang dunia (Coral Triangle), perairan Raja Ampat memiliki 70% jenis karang dunia dan jumlah jenis ikan karang tertinggi di dunia. Beberapa menyebut perairan Raja Ampat sebagai pabrik spesies (species factory) karena diyakini sebagai sumber yang menghidupi Coral Triangle lain di sekitarnya. Itu baru spesies yang sampai saat ini teridentifikasi dan terhitung. Saking kayanya perairan Raja Ampat, seorang ilmuwan pernah mengindentifikasi 283 spesies dalam 1 dive. Tidak heran Raja Ampat disebut sebagai perairan dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia.

Dengan kekayaan Raja Ampat yang berlimpah ini dan potensinya, banyak pihak khawatir bahwa akan terjadi eksploitasi seperti overfishing dan penangkapan dengan cara merusak. Cara yang merusak yaitu dengan bom atau potasium.

Selain itu faktor jumlah penduduk juga berperan. Raja Ampat termasuk wilayah dengan populasi terendah di Indonesia. Namun dengan kekayaan Raja Ampat yang luar biasa, baik di laut maupun di darat, makin banyak orang datang untuk mengekstrak kekayaan tersebut. Illegal fishing, pembalakan, pertambangan, penangkapan satwa yang dilindungi antara lain adalah isu yang mengancam kelangsungan alam Raja Ampat.

Oleh karena itu beberapa tahun terakhir organisasi lokal dan internasional bekerja sama dengan pemerintah dan masyarakat setempat untuk menjalankan inisiatif konservasi Raja Ampat. Inisiatif yang diprakarsai Conservation International (CI) bersama dengan The Nature Conservancy (TNC). Mulai tahun 2007 diberlakukan biaya izin masuk (entrance fee). Biaya dibagi atas biaya retribusi dan non-retribusi. Penghasilan retribusi masuk ke Dinas Budpar untuk mendanai pembangunan infrastruktur. 40% penghasilan non-retribusi akan digunakan untuk dana konservasi, 40% untuk dana masyarakat, dan 20% untuk administrasi. Dana administrasi dikelola oleh 5 stakeholder yang terdiri atas Dinas Budpar, Dinas Kelautan dan Perikanann, CI, TNC, dan Dive Operators.

Dana konservasi antara lain untuk pendidikan mengenai konservasi dan dana patroli. Sementara dana masyarakat dimanfaatkan untuk kebutuhan seperti pembangunan desa dan kesehatan.

Adapun di beberapa kampung di Raja Ampat berlaku suatu praktek tradisional yang disebut dengan Sasi. Sasi melarang diambilnya apapun dari dalam lautan selama musim tertentu. Tujuannya agar kandungan di dalam lautan punya waktu untuk berkembang.

Teringat suatu gambar yang saya lihat hari itu, 15 Oktober 2010, kapal nelayan di tengah laut dengan backdrop sunset. Quote pada gambar tersebut “Kepulauan Raja Ampat adalah surga titipan Tuhan yang kita pinjam dari anak cucu”. Kenyataan yang perlu selalu kita ingat, bukan hanya untuk Raja Ampat namun di manapun kita berada.

Catatan: Coral Triangle merupakan suatu area dengan tingkat populasi dan jenis terumbu karang serta ikan terumbu karang tertinggi di dunia. Coral Triangle meliputi Filipina, Kalimantan, timur Indonesia sampai Kepulauan Solomon.

Advertisements