Menyelam di antara Sampah dan Kehidupan Malam

Ikan TerompetSeroja LautFeather Star Merah

 

 

 

 

 

 

 

 

Bagi sebagian orang, menyelam ke dalam laut di pagi cerah saja bisa membangkitkan rasa klaustrofobia. Bayangkan menyelam di dalam laut pada malam hari yang gelap gulita. Manusia waras mana yang bakal mau dibawa ke kedalaman air laut di tengah malam walau dimodali senter di tangan?

Para pencinta selam wisata. Itulah jawabannya. Dalam dunia diving dikenal salah satu aktivitas yang disebut night dive, menyelam pada malam hari. Memang bisa lihat apa gelap-gelap di kedalaman air? Sama seperti alasan orang berkunjung ke Night Safari. Untuk melihat hewan yang tidak atau jarang muncul di siang hari beraktifitas di malam-malam. Tentunya dengan bermodalkan senter.

Dapat dimaklumi bahwa tidak semua penggemar selam menggemari night dive. Sedikit grogi membayangkan masuk ke dalam laut yang hitam karena gelap malam, hanya bisa melihat sebatas sinar dari senter di tangan. Makin grogi saat briefing mengenai tanda-tanda yang harus digunakan kalau menghadapi bahaya, lagi-lagi hanya bermodalkan senter. Mulai dag-dig-dug waktu diwanti-wanti jangan menyelam terlalu dekat dengan dasar karena banyak bulu babi dan stonefish (berbahaya bila tersentuh).

Apalagi saat diberi tahu harus hati-hati saat pertama masuk ke air dengan senter karena sering ada ikan sori. Ikan sori adalah ikan yang bercucut dan sering meloncat ke permukaan air, atau disebut juga Needlefish. Cukup dikenal suka menabrak kapal saat meloncat. Dan dalam kasus ini bisa jadi menabrak kita. Otak pun mulai berpikir ulang tapi kaki tetap melangkah menuju kapal.

Diving malam ini, 16 Oktober 2010, dilakukan di Saonek Jetty, dermaga depan Kampung Saonek. Penyelaman dilakukan antara 5-10 meter. Tidak terlalu dalam. Hal pertama yang dilihat adalah plastik. Lalu sekaleng besar Thinner yang tampak masih baru. Ya, betul sekali, kami menyelam di antara sampah. Udah belain nyelam malam-malam dalam gelap, eh yang dilihat sampah bertebaran.

Tapi tidak lama kemudian muncul Pufferfish besar berukuran sekitar 40cm. Diikuti oleh Porcupinefish yang tidak kalah besar. Lionfish ukuran serupa. Lalu Stonefish cukup besar juga. Bermacam shrimp dan crab berbagai ukuran. Tiang-tiang dermaga dipenuhi warna-warni kehidupan. Dan yang paling mencengangkan, Wobbegong Shark yang lagi tidur dalam drum dan kepalanya bersandar nongol keluar. Tampak sungguh imut!

The Big Pufferfish

Lionfish

Hiu Wobbegong dalam Gentong

Selain berbagai kehidupan tersebut, berbagai benda mati (sampah) yang tersebar juga tidak kalah menarik untuk dilihat. Beberapa memulai suatu kehidupan baru, contohnya kereta dorong yang mulai ditumbuhi koral. Kombinasi sampah yang mulai berkarat, pasir, dan partikel-partikel berterbangan pada malam hari menciptakan efek tersendiri. Dramatis.

Roda

Harus saya katakan diving malam itu sangat menyenangkan. Berenang di antara tiang dermaga dengan sedikit remang lampu dari atas dermaga menimbulkan sensasi berbeda. Kami bahkan tidak merasa bahwa kami telah diving selama 82 menit. Hampir 1.5 jam!

Ternyata menyelam malam hari tidak seseram yang dibayangkan, selama kita mawas diri dan memastikan menjelajah tidak terlalu jauh dari teman diving kita. Mengingat tanda-tanda yang harus digunakan di dalam air, mempersenjatai diri dengan senter yang dapat diandalkan, dan selalu ingat untuk tidak pernah panik di dalam air. Lalu, voila, silahkan menikmati kehidupan malam di bawah laut.

[Tulisan dan foto dibuat dalam rangka Program Aku Cinta Indonesia (ACI) Detikcom 2010]

Advertisements