Selamat Datang di Raja Ampat

Suara burung berkicau terdengar samar-samar. Hal pertama yang teraba saat membuka kelopak mata pagi hari ini (16/10/10). Berbagai suara burung bersahutan yang terdengar makin jelas mulai membangunkan alam sadar.

Di dalam cottage kayu dengan sinar matahari berusaha mengintip dari sela-sela tirai jendela. Dikelilingi pepohonan rimbun yang membuat kita merasa berada di tengah hutan. Sementara beberapa meter dari depan cottage terdengar suara ombak-ombak kecil menghempas pelan ke pantai.

Home. Inilah rumahku. Itulah yang selalu saya rasakan pada momen-momen seperti ini.

Malam tadi tidak lama setelah meletakkan tas di cottage kami disambut oleh kus-kus bertotol yang merambat turun dari pohon depan cottage. Saat sarapan pagi disapa oleh biawak pantai yang muncul dari balik pohon. Sedikit siang dimampiri burung dara mahkota yang lewat di sebelah cottage. Makan siang diiringi suara kumbang bersahutan menggema dari arah pepohonan.

Kami baru sampai semalam di Raja Ampat dan baru berkesempatan diving sekali pagi tadi. Diving yang ditandai pertemuan dengan Pygmy Seahorse (kuda laut kerdil) seukuran setengah senti sampai dengan Wobbegong Shark seukuran satu meter. Namun dalam waktu yang singkat ini seakan alam beserta penghuninya sudah ingin membuktikan sesuatu. Bahwa bukan tanpa alasan Raja Ampat dikenal dengan kekayaan alamnya.

Di bawah laut, jumlah jenis terumbu karang, ikan, dan moluska Raja Ampat dianggap tertinggi di dunia. Di atas permukaan, hamparan air laut berwarna biru kehijauan menggoda untuk dicemplungi. Gugusan pulau kecil dan besar dengan julangan pohon-pohon hijau rimbun menghiasi pemandangan. Pulau-pulau ini merupakan habitat berbagai jenis burung dan mamalia serta reptil, sebagian darinya endemik atau merupakan satwa khas Papua yang dilindungi. Sebagian lagi merupakan jenis yang baru ditemukan.

Tidak heran banyak yang mengatakan Raja Ampat adalah surga. Di bawah laut dicengangkan oleh banyaknya variasi dan warna-warni kehidupan. Di atas permukaan laut, dimanjakan oleh pemandangan alam yang memukau. Kalau kata Alfred Russel Wallace (1860) tentang Raja Ampat, “one of the most singular and picturesque landscapes I have ever seen”. Kalau kata saya, fotojenik!

This slideshow requires JavaScript.

[Tulisan dan foto dibuat dalam rangka Program Aku Cinta Indonesia (ACI) Detikcom 2010]

Advertisements