Mencari Gedung Pari, Dapat Pinang Sirih

Gedung pertemuan berbentuk ikan pari baru saja diresmikan di Waisai, ibukota Raja Ampat. Menarik sekali! Mendengar itu saya pun bertekad untuk melihat gedung tersebut dengan mata kepala sendiri.

Jadilah kami di-drop di Waisai dengan speedboat pagi ini (20/10/10). Berjalan kaki di jalanan lebar beraspal yang baru tahun ini dibuat, kami mencari si gedung pari sementara sinar matahari panas membakar kulit. “Haduh, kalau panas gini mah mana tahan”, kata saya. Gedung pari pun tidak ada tanda-tanda terlihat dari kejauhan.

Ternyata tidak lama kemudian hujan deras! Untungnya kami mampir dulu di satu-satunya pasar di Waisai. Pasar ini menjual berbagai sayur-mayur, ikan, dan berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya. Terdapat juga ruko-ruko kelontong. Di seberangnya ada gedung terbuka dimana mayoritas penjual menjajakan pinang sirih. Di sinilah kami berteduh.

Kambing aja berteduh

Kambing aja berteduh

Duduk menunggu hujan reda kami disambangi Pak Alfaris. Kami pernah bertemu dengan Pak Alfaris sebelumnya di atas ferry dari Sorong ke Waisai. Setelah sedikit mengobrol, Pak Alfaris berujar “Harus coba pinang sirih!”. Dan benar saja. Pak Alfaris mencomot beberapa pinang, sirih, dan kapur dari salah satu penjual lalu meletakkannya di meja depan kami.

Mayoritas menjual Pinang Sirih

Mayoritas menjual Pinang Sirih

Buah Pinang

Buah Pinang

Semangat mencoba muncul tapi juga sedikit takut karena pertama kali saya mencoba kunyah pinang sirih beberapa bulan yang lalu kurang berhasil. Satu gigitan yang terasa pedas dan membuat saya langsung berlari keluar rumah mencari tempat melepeh, tentunya diiringi tawa orang sekitar. Percobaan pertama gagal.

Saya telah menunggu kesempatan untuk percobaan ke-dua yang diharapkan lebih sukses. Namun tidak tiba-tiba seperti ini saat tidak direncanakan.

Dengan sedikit grogi karena semua mata memandang, saya mulai susah payah mengupas pinang dengan gigi. Kemudian setengah buah pinang masuk ke mulut dan mulai lah mengunyah. Rasanya sepet luar biasa dan membutuhkan keteguhan untuk bertahan tidak melepehkan pinang. Apalagi Pak Alfaris sambil berujar, “Tahan!”. Mengunyah pun dilanjutkan.

Dagdigdug gigit Pinang

Dagdigdug gigit Pinang

Berikutnya adalah sirih yang dibubuhi kapur. Saya masih ingat bahwa si sirih ini yang terakhir kali menyebabkan saya gagal karena pedesnya yang mengejutkan. Dan.. masuklah sirih kapur ke mulut menemani pinang. Ternyata tidak sepedas yang saya ingat. Mungkin dulu caranya salah. Setelah diberi tahu bahwa pinang sirih dapat mematikan bakteri dalam mulut dan baik untuk gigi, mengunyah pun makin semangat.

Pinang + Sirih + Kapur = Menu Lengkap

Pinang + Sirih + Kapur = Menu Lengkap

Gigit pinang, cocol kapur ke sirih, lalu kunyah

Gigit pinang, cocol kapur ke sirih, lalu kunyah

Sambil mengunyah pinang sirih bersama, kami pun mengobrol lebih lanjut. Ditanya bagaimana kalau sehari tidak minang sirih, Pak Alfaris berujar, “Apa kata dunia!”. Mengunyah pinang sirih sudah menjadi salah satu kebiasaan unik di Indonesia terutama daerah Timur. Dilakukan setelah makan, sambil ngobrol, sambil bekerja. Rasanya ada yang kurang bila tidak mengunyah pinang sirih.

Menurut Pak Alfaris, sehari bisa mengeluarkan Rp.20,000 untuk membeli pinang sirih. Kira-kira dapat antara 30-40 buah. Apalagi setelah makan, rasanya wajib untuk minang sirih. Istilahnya, 4 Sehat 5 Sempurna dan 1 Nikmat.

Pada akhirnya, kami tidak berhasil mencapai gedung pari. Tapi saya merasa mencapai keberhasilan sendiri dengan akhirnya bisa mengunyah pinang lebih dari satu gigitan. “Bagaimana Pak, lulus gak?”, tanya saya. Pak Alfaris pun menjawab, “Lulus!”.

Efek samping Pinang Sirih

Efek samping Pinang Sirih

[Tulisan dan foto dibuat dalam rangka Program Aku Cinta Indonesia (ACI) Detikcom 2010]

Advertisements