Pak Wena & Keramahan Suku Moi

Salah satu tujuan wisata yang bisa dibilang tidak jauh dari Kota Sorong adalah Pulau Um di Distrik Makbon, sekitar 2 jam dari kota Sorong. Pulau Um juga dikenal sebagai pulau kelelawar karena merupakan habitat ribuan kelelawar. Tidak ingin kehilangan kesempatan menyambangi pulau yang menarik ini, tanggal 21 Oktober 2010 siang kami menuju lokasi.

Untuk mencapai pulau tersebut, dari Kampung Makbon kami menyewa perahu milik Pak Wena Paa. Kira-kira membutuhkan waktu 15 menit untuk sampai di Pulau Um. Dari kejauhan tampak suatu pulau mungil dengan pepohonan hijau di tengahnya, sementara sekelilingnya pasir teramat putih. Dengan tidak sabar kami bergegas menaiki perahu motornya, sampan panjang dari kayu dengan mesin 15 PK yang biasa disebut long boat atau johnson.

Pak Wena dan mayoritas warga di Kampung Makbon berasal dari suku Moi, suku asli Sorong, dan sehari-hari bekerja sebagai nelayan atau berkebun tergantung pada musim. Hasil berkebun antara lain adalah durian, rambutan, langsat (seperti duku), dan cokelat. Sayang sekali sedang tidak musim durian padahal saya sudah meneteskan air liur begitu membayangkan kebun durian.

Mengagumi perairan bening di bawah saya, tiba-tiba Pak Wena menarik-narik sesuatu dari atas kapal. “Dapat ikan bobara”, kata Pak Wena tersenyum sederhana seraya menarik benang pancing kemudian menunjukkan ikannya ke saya untuk difoto. Ternyata selagi mengarahkan perahu yang kami tumpangi, Pak Wena sekalian melemparkan benang pancing dan dengan mudahnya dalam beberapa menit seekor ikan langsung tertangkap.

Pak Wena dan tangkapannya

Pak Wena dan tangkapannya

Sambil melanjutkan mengarahkan perahu, Pak Wena berkata, “untuk dibawa ke Sorong”, sambil tertawa sumringah. Maksudnya adalah bahwa ikan tersebut untuk kami. Saya langsung merasa kaget bercampur senang bercampur tersentuh. Baru beberapa belas menit kami bertemu dan belum sempat banyak mengobrol, tapi Bapak ceria ini dengan ikhlasnya memberikan hasil tangkapan ke orang yang baru dikenal.

Tidak lama kemudian kami mendarat di Pulau Um. Sementara saya sibuk mengagumi kecantikan pulau ini dari dekat, Pak Wena dengan semangat langsung mencari kayu yang tidak terpakai dan membuat api di antara pasir. Ikan segar yang tadi tertangkap dalam sekejap menjadi ikan bakar yang siap disantap. Pak Wena menyajikannya di atas daun keladi yang hijau segar dan meletakannya di atas pasir putih.

Ngemil Ikan Bakar di Pulau Um

Ngemil Ikan Bakar di Pulau Um

Sambil menikmati suasana tenang dan teduh beralaskan pasir putih yang halus, kami mengobrol santai ditemani juga oleh dua orang dari kampung seberang. Suasana kekeluargaan membuat waktu terlalu cepat berlalu hingga tak terasa sudah saatnya harus kembali ke daratan.

Pulau Um dikenal sebagai habitat kelelawar dan merpati

Pulau Um dikenal sebagai habitat kelelawar

Anak-anak dari kampung seberang yang mengayuh sendiri ke pulau

Anak-anak dari kampung seberang yang mengayuh sendiri ke pulau

“Dari dulu Suku Moi memang dikenal dengan keramahannya”, ujar pendamping kami menjelaskan. Tidak salah, pikir saya. Hanya butuh waktu sekejap untuk merasakan aura keramahan yang timbul dari seringai tulus dan sikap bersahabat Pak Wena serta orang-orang yang menemani kami mengobrol tadi. Pantas saja Pulau Um terasa damai bagi saya.

Sayangnya kami hanya sempat bertemu sebentar saja, namun terima kasih Pak Wena telah membuat saya mengalami sendiri keramahan dari Suku Moi. Momen seperti inilah yang selalu sangat berkesan bagi saya saat traveling di Indonesia. Memiliki kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang seperti Pak Wena.

Pak Wena dan longboat-nya

Pak Wena dan longboat-nya

[Tulisan dan foto dibuat dalam rangka Program Aku Cinta Indonesia (ACI) Detikcom 2010]

Advertisements