Tersihir Pesona Pegunungan Arfak

Mendengar bahwa Pegunungan Arfak adalah tempat yang wajib dikunjungi bila berada di Manokwari, tanggal 23 Oktober 2010 pagi kami sudah siap untuk berpetualang ke daerah tersebut dengan menyewa kendaraan 4WD. Di Pegunungan Arfak ini terletak Danau Anggi, yang terdiri atas Danau Giji dan Danau Anggi. Pegunungan Arfak sendiri memiliki Taman Cagar Alam dan banyak didatangi peneliti karena flora dan faunanya, di antaranya anggrek dan kupu-kupu sayap burung. Beberapa dari flora dan fauna di Pegunungan Arfak bahkan endemik daerah tersebut.

Perjalanan menuju Danau Giji membutuhkan sekitar 3 jam dengan jalanan yang sama sekali tidak membosankan. Sangat rugi bila dalam 3 jam itu kita melewatkannya dengan tidur. Jalanan yang naik turun terjal dan berbelok-belok menambah serunya pemandangan di depan dan sekitar kita. Bayangkan melihat pegunungan di depan dan pepohonan tinggi menjulang di sebelah kiri, tiba-tiba mobil berkelok serta menurun terjal dan kita disuguhi pemandangan sungai dengan jeram-jeram kecil. Atau melihat pepohonan khas pegunungan di kanan kiri jalan kemudian mobil harus menyeberang sungai lalu pandangan disambut oleh desa kecil asri yang dikelilingi perbukitan hijau.

Panorama indah yang berubah setiap beberapa saat membuat kami tak duduk diam. Saya dan partner yang memilih duduk di bak terbuka belakang mobil bahkan lebih sering berdiri menghirup pemandangan di sekitar kami. Karena setiap duduk sebentar saja tiba-tiba di depan mata dan sekitar dibentangkan dengan panorama indah lain yang membuat kami secara spontan berdiri. Udara dingin yang semakin terasa dan angin yang kadang seperti menampar pipi sama sekali tidak mengurangi kegirangan kami. Satu kata yang sama-sama terpikirkan oleh kami. Dahsyat! Bahkan Nadine (Chandrawinata) yang duduk di dalam mobil berulang kali menjulurkan tubuhnya ke luar jendela untuk menghirup pemandangan sepenuhnya dan mengabadikannya dalam foto.

Beberapa desa yang kami lewati di Distrik Wamera dan Distrik Anggi tampak rapih dan asri dalam kepungan perbukitan, pepohonan hijau, dan kembang cantik warna-warni. Di saat rumah tradisional suku Arfak sudah makin berkurang populasinya, di pedalaman ini kita masih bisa melihat Rumah Kaki Seribu berjejer di setiap desa. Sepanjang perjalanan, setiap orang yang kami lewati menjawab sapaan singkat kami dengan nada riang dan seringai gembira. Adalah senyuman tulus yang senantiasa diberikan kepada kami. Mereka adalah penduduk asli pegunungan Arfak dan merupakan komunitas asli terbesar Manokwari.

Sayangnya kami hanya sampai di salah satu danau yakni Danau Giji dikarenakan perjalanan ke Danau Gita membutuhkan tambahan waktu dan hari mulai sore serta tampak akan hujan. Pilihan yang sulit karena rasanya kurang lengkap hanya melihat satu dari sepasang Danau Anggi namun kami tidak bisa meresikokan jalanan yang akan semakin berbahaya bila telah dibasahi hujan.

Mampir ke Desa Testega yang terletak di pinggir Danau Giji, kami mengambil beberapa foto dan sedikit mengobrol dengan Keluarga Mathias Saibu yang bermukim di desa tersebut. Sungguh keluarga yang sangat ramah dan tampak begitu ceria dengan kehadiran kami. Saat kami akan pamit, secara tiba-tiba sang Ibu menyodorkan karung kepada kami untuk dibawa. Beliau telah mengisinya dengan kentang dan daun bawang dari kebun mungil di depan rumahnya. Tidak ada yang dapat berkata-kata dari kami menerima kebaikan dari keluarga yang baru kami kenal sekejap ini.

Enggan untuk beranjak dari tempat tersebut namun hari sudah mulai sore dan kami harus turun kembali ke kota. Di bak mobil teronggok sekarung hasil kebun Keluarga Saibu yang tanpa pikir panjang diberikannya kepada kami. Tapi kami membawa serta sesuatu yang lain. Pengalaman seru yang kadang memacu adrenalin, serta yang paling penting, keramahan dan kebaikan Keluarga Saibu dan masyarakat suku Arfak lain yang kami temui di perjalanan dan telah menyentuh kami.

Kami pun membuat janji pasti akan kembali lagi untuk menetap beberapa hari. Agar dapat menikmati lebih banyak pesona Pegunungan Arfak yang menyihir. I’ll be back.

 

[Tulisan dan foto dibuat dalam rangka Program Aku Cinta Indonesia (ACI) Detikcom 2010]

Advertisements