Caci, Perkelahian Cambuk di Compang To’e

Bicara mengenai Manggarai Barat di Flores, satu daya tarik yang paling diketahui banyak orang mengenai daerah ini tentunya adalah Pulau Komodo dengan reptil raksasanya dan kemagisan bawah laut kawasan Taman Nasional Komodo. Namun yang tidak kalah menarik untuk ditengok adalah kebudayaan masyarakat Manggarai Barat terutama pertunjukan Caci atau sering diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris sebagai “Whip Fight”.

Pertunjukan Caci merupakan kebudayaan yang sangat erat maknanya dengan kehidupan masyarakat Manggarai Barat dikarenakan keseluruhan atribut tarian dan gerakannya yang sarat dengan makna. Dahulunya Caci dilakukan setiap Penti, yaitu setelah panen untuk menandakan berakhirnya tahun bertani yang telah berlalu dan mulainya tahun bertani yang baru. Festival Penti dapat dilakukan berhari-hari  disertai musik yang diiringi dengan gendang dan gong. Namun sekarang Penti dilaksanakan hanya 5 tahun sekali. Caci juga dapat dilaksanakan di acara-acara yang menandai peristiwa penting dalam kehidupan, seperti peresmian kampung baru, pernikahan, lahiran, pemakaman, ataupun sekedar mengucap syukur atas suatu keberhasilan.

Seiring dengan waktu dan meningkatnya kesadaran pariwisata di Flores, Caci tidak saja dapat dinikmati pada acara-acara khusus namun bisa dilakukan berdasarkan permintaan. Suguhan semacam ini tentunya sudah di luar konteks asli makna Caci karena bukan dilakukan sebagai ritual namun sebagai pertunjukan budaya. Bagaimanapun, kalau memang ada kesempatan menyaksikan pertunjukan ini, mengapa tidak?

Dua desa yang dapat menampilkan pertunjukan Caci berdasarkan permintaan adalah Kampung Tado dan Kampung Melo. Pada kesempatan kali ini kami akan berkunjung ke Kampung Melo yang berlokasi di pinggir jalan Trans Flores Km.20. Kampung Melo termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Sano Nggoang dan memiliki sanggar bernama Compang To’e, yang akan mempertunjukkan atraksi Caci kepada kami.

Kampung Melo terletak di atas bukit dan memiliki latar belakang pegunungan serta pemandangan ke Labuan Bajo dan laut. Panorama yang cantik, namun sayangnya siang itu mulai tertutup kabut. Setelah melewati gapura kampung, kami dipersilahkan untuk masuk ke dalam rumah adat, Rumah Gendang. Seiring kedatangan kami di kampung, dentuman musik tradisional yang terdiri dari gendang dan gong terdengar berkumandang dari jauh. Kami disambut dengan senyum dan tawa. Ini adalah lagu menerima tamu yang dilakukan seiring penyambutan tamu dari pagar sampai ke rumah, dan bermaknakan kegembiraan dan kehangatan terhadap kedatangan tamu.

Dalam Rumah Gendang, kami duduk di lantai rumah dan melalui serangkaian ritual adat mulai dari sambutan antar kedua pihak (penerima tamu dan tamu), penyajian sopi (tuak lokal), sampai kepada penyajian pinang sirih. Semua rangkaian prosesi tersebut dimaksudkan sebagai pernyataan bahwa kami diterima di kampung tersebut dan dianggap sebagai keluarga. Walaupun meminum tuak dan mengunyah pinang sirih tidak diharuskan, namun saat disuguhkan tetap harus kami terima demi kesopanan dan menghormati adat yang berlaku. Beberapa dari kami yang penasaran mencoba, mencocol sirih ke kapur dan mencoba mengunyahnya dengan buah pinang. Sementara itu, teman-teman yang lain memperhatikan perubahan ekspresi muka kami serta gigi dan bibir kami yang mulai memerah. Setelah beberapa kunyahan, saya meludahkan pinang sirih ke dalam wadah kayu yang memang khusus disediakan untuk penampungan ampas pinang sirih.

Setelah rangkaian prosesi di dalam rumah tersebut kami dipersilahkan ke luar rumah untuk mulai menikmati pertunjukan. Sayangnya tidak berapa lama kemudian, kabut mulai menutupi langit dan hujan deras mengguyur kampung. Alhasil sambil menunggu hujan reda, kami menikmati suguhan kopi Flores hangat serta potongan buah nanas segar dan mengobrol dengan salah satu tetua kampung. Saat hujan berhenti, para penduduk kampung mulai persiapan lagi untuk memulai pertunjukan. Sayangnya tidak berapa lama kemudian hujan kembali. Karena kali ini hujan tidak terlalu deras, diputuskan bahwa pertunjukan tetap dilanjutkan. The show must go on. Padahal mereka belum pernah melaksanakan pertunjukan ini di saat hujan sebelumnya.

Beberapa pelaku Caci telah siap dengan kostum dan peralatan mereka yang terdiri atas kain songket yang melingkari pinggang, rangkain lonceng yang melingkari pergelangan kaki dan pinggul, tameng, cambuk, masker, dan tongkat. Cambuk terbuat dari rotan dan pegangan kulit, dan merupakan simbol dari lelaki, ayah, dan langit. Sementara tameng terbuat dari bambu rotan dan kulit kambing, dan merepresentasikan perempuan, rahim, dan tanah. Gabungan dari simbol tersebut melambangkan lingkaran kehidupan.

Atraksi Caci terdiri dari beberapa sesi dimana setiap sesi terdiri dari 2 pemain, yang diserang dan sang penyerang. Yang diserang memegang tameng serta tongkat bambu untuk menahan diri dari serangan. Sang penyerang memegang cambuk. Posisi penyerang kemudian akan ditukar antara 2 pemain tersebut. Caci bukanlah suatu pertandingan dimana salah satu akan menang tapi merupakan suatu wujud puji syukur kepada Tuhan dan leluhur atas keberhasilan dan kebaikan yang diperoleh.

Walaupun pertunjukan ini tampak seperti perkelahian karena dapat menimbulkan luka serius, namun suasana kegembiraan bisa dirasakan. Setiap satu sesi dimana salah satu pemain diserang dengan kibasan cambuk, suasana terasa sedikit serius dan tegang. Sebelum cambuk diarahkan ke pemain lawan, kadang sang penyerang memainkan cambuknya dulu dengan hentakan berulang kali ke tanah. Setiap kali suatu sesi penyerangan cambuk selesai dilaksanakan, suasana tiba-tiba terasa santai dan gembira terutama karena sekelompok lelaki di pinggir arena bernyanyi dengan riang. Semacam nyanyian puji syukur dan wujud kegembiraan. Terasa sekali bahwa ini bukanlah perkelahian tapi acara merayakan syukuran sehingga menimbulkan suasana hati yang menyenangkan.

Di dalam konteks dimana Caci dilaksanakan untuk merayakan panen, bagian tubuh yang terkena cambuk saat pertunjukan mempunyai arti yang penting. Bila punggung lawan terkena cambuk maka itu adalah pertanda baik bahwa panen tahun depan akan menjanjikan. Darah mengalir dari luka yang terkena cambuk merupakan persembahan kepada leluhur yang akan memastikan kesuburan tanah.

Setelah kami dibuat terpana oleh pertunjukan Caci, ternyata ada dua tarian lagi yang dipersembahkan untuk kami yaitu Ndundu Ndake dan Tetek Alu. Tarian Ndundu Ndake merupakan tarian persembahan kepada tamu untuk mengekspresikan rasa syukur, terima kasih, dan kebahagiaan. Walaupun hujan sore itu makin deras, namun warga Kampung Melo meneruskan tariannya dengan muka sumringah. Pada akhir tarian tersebut, beberapa dari kami ditarik untuk menari dan tertawa bersama di bawah langit yang mengguyur. Sementara Tetek Alu merupakan permainan tradisional dimana bambu-bambu yang digerakkan harus diloncati oleh satu atau lebih pemain. Beberapa dari kami mencoba ikut berpartisipasi meloncati bambu dengan kemampuan yang terbatas, muka sedikit kebingunan, air hujan menetesi kepala, tanah becek yang licin, dan hampir saling bertubrukan. Sore hari yang tidak terduga.

Di akhir hari, kami semua, baik warga maupun tamu kampung, basah kuyup dan kedinginan. Tapi kami meninggalkan kampung tersebut dengan hati gembira dan rasa syukur atas hari yang sangat seru. Mudah-mudahan kami pun tetap diingat oleh warga Kampung Melo, untuk pengalaman sore hari yang luar biasa.. menari bersama di bawah hujan di Tanah Flores.

Kampung Melo – Flores, Oktober 2011.

Advertisements