Cunca Rami: Air Terjun Favorit

Dari segi pariwisata, Pulau Flores terutama terkenal karena dua obyek wisata yaitu 1) Pulau Komodo dengan kadal Komodo-nya, 2) Gunung Kelimutu dengan danau tiga warna-nya. Padahal bila bisa menyediakan waktu untuk mengeksplorasi sisi Flores selain kedua obyek tersebut, berbulan-bulan pun tidak akan ada habis atau bosannya. Keindahan alamnya yang terdiri dari perbukitan, pegunungan, persawahan, kelautan, kepulauan, danau, sungai, sumber air panas, air terjun masih sangat alami dan belum banyak tereksplorasi. Budaya dan cara hidup masyarakat tradisional yang masih menjunjung tinggi peninggalan nenek moyang merupakan daya tarik yang lain.

Setelah hari-hari sebelumnya kami mengeksplorasi habitat Komodo dan keindahan bawah laut Taman Nasional Komodo, kali ini kami akan menjelajahi salah satu air terjun di Manggarai Barat.

Daerah Manggarai Barat memiliki 3 air terjun yaitu Cunca Lolos, Cunca Wulang dan Cunca Rami, dimana cunca berarti air terjun. Seperti banyak obyek menarik lainnya di seantero Flores, ketiga cunca ini bisa dibilang masih kurang populer di kalangan wisawatawan. Dari ketiga cunca ini, saya sudah pernah berkunjung ke Cunca Rami dan bisa dikatakan bahwa itu adalah air terjun favorit saya sampai saat ini. Entah kenapa tapi saya punya sedikit obsesi untuk menemukan air terjun yang sempurna (menurut saya tentunya). Oleh karena itu, saya selalu bersemangat mengunjungi air terjun terutama yang belum tereksploitasi.

Rencana awal kami untuk trip ini adalah mengunjungi Cunca Wulang. Kenapa Cunca Wulang? Karena Cunca Wulang lebih tepat disebut sebagai canyon disebabkan menyerupai aliran sungai dengan tebing di kanan kirinya. Tampak sangat menggoda untuk bisa loncat dari tebing ke air berwarna jernih kehijauan. Dan pada kunjungan sebelumnya ke Flores, saya tidak berkesempatan mengunjungi cunca ini padahal saya sangat bersemangat ingin mendatanginya. Sayangnya, disebabkan medan yang sedikit berat dan hujan berhari-hari, kami harus mengubah rencana dari Cunca Wulang menjadi Cunca Rami. Walaupun begitu, saya tidak terlalu kecewa karena saya sangat menyukai tempat tersebut.

Untuk bisa mencapai Cunca Rami, kami harus menempuh perjalanan sekitar 1 jam dengan mobil. Jalanan Trans Flores yang berbukit-bukit dan berkelok-kelok cukup sadis bahkan kepada mereka yang tidak biasa mabuk darat. Namun untuk yang cukup beruntung tidak mengalami gejala mual, keindahan pemandangan alam Flores beserta kontur jalanan yang unik merupakan pengalaman seru yang rugi untuk dilewatkan.

Memasuki Desa Wae Lolos, mobil kami melewati permukiman warga setempat, dan kami pun disambut dengan lambaian tangan dan senyum ceria oleh anak-anak kecil yang sedang bermain di depan halaman. Mobil kami pun berhenti di depan sebuah rumah. Di sinilah kami akan melanjutkan perjalanan ke Cunca Rami dengan trekking.

Trekking ke Cunca Rami memakan waktu sekitar 30-45 menit. Menuruni hutan yang sedikit terjal, kami kemudian disuguhi indahnya hamparan sawah hijau dan air terjun dari kejauhan. Kami melanjutkan trekking dengan menyeberangi sawah dan sungai kecil yang dikelilingi kawasan Hutan Mbeliling. Penghasilan utama masyarakat lokal daerah ini adalah dari bertani dan berkebun. Masyarakat yang bermukim di pegunungan terkadang turun untuk mengurusi sawah dan kebunnya. Bagi kita, menjalani trekking terjal di antara hutan, melewati sungai, dan kadang tanah yang licin merupakan tantangan yang melelahkan. Namun medan perjalanan seperti itu sudah biasa dilakoni warga setempat, terutama yang tinggal di dekat pegunungan dan akses jalanan masih sulit. Otomatis ingin langsung menceburkan diri ke air yang sejuk begitu sampai di Cunca Rami.

Nah mengapa saya bisa bilang ini adalah air terjun favorit saya? Pertama, air terjun ini sangat alami, dikelilingi oleh pemandangan menakjubkan dan bukan merupakan spot wisata yang populer sehingga kebersihan terjaga dan cukup private. Kedua, kolam air terjun cukup dalam sehingga dapat direnangi dan loncat ke dalam air. Kalau merasa kepanasan tinggal menceburkan diri ke dalam dinginnya air, dan bila mulai merasa kedinginan tinggal menjemur diri di atas bebatuan sekitarnya.

Ah, senangnya bisa kembali ke tempat ini.. Rasanya tidak ingin cepat-cepat beranjak pergi. Terutama karena trekking kembali ke mobil berarti harus menjalani tanjakan cukup panjang dan melelahkan. Perasaan saya mengatakan bahwa saya akan kembali lagi ke sini. Sampai perjumpaan berikutnya, Cunca Rami!

Advertisements