Land of the Dragons Part II: Komodo Island

Melanjutkan petualangan dari Pulau Rinca, setelah melalui perjalanan laut selama kurang lebih 2 jam, kami sampai di Loh Liang, dermaga Pulau Komodo. Pulau Komodo dengan ukuran 34 Hektar merupakan pulau terbesar yang ada di kawasan Taman Nasional Komodo (TNK). Selain di Pulau Komodo, populasi terbesar reptil Komodo ada di Pulau Rinca, Pulau Nusa Kode, dan Gili Motang. Di beberapa pulau kecil lainnya dan beberapa daerah daratan di Flores juga dapat ditemukan Komodo atau variannya. Di antara keempat pulau yang disebutkan tadi, 2 pulau yang dikelola untuk menerima wisatawan adalah Pulau Komodo dan Pulau Rinca.

Pulau Komodo berukuran lebih luas daripada Pulau Rinca sehingga trekking yang dapat dilakukan lebih lama. Sama seperti Pulau Rinca, selain Komodo, daratan di taman nasional ini juga merupakan habitat berbagai reptil, mamalia, dan jenis burung. Bedanya adalah bahwa di pulau ini tidak terdapat kera. Ada yang bilang ini dikarenakan monyet berasal dari daratan Flores, dan Pulau Rinca yang dekat dengan Labuan Bajo dapat ditempuh dengan berenang oleh kera. Ada juga cerita penduduk lokal Pulau Komodo yang mengatakan bahwa ketidakberadaan kera di pulau disebabkan oleh nenek moyang mereka yang tidak suka dengan kera.

Berbeda dengan Pulau Rinca yang membuka pemandangan dengan tanah luas dan perbukitan padang savana, Pulau Komodo menyambut kami dengan bentangan pantai pasir putih dan kemudian pepohonan kering dengan lekuk-lekuk rantingnya. Ini adalah pertama kali saya trekking di Pulau Komodo dan ternyata trekking di sini sangat terik. Tapi ini juga disebabkan karena kami trekking di tengah hari bolong. Menurut saya trekking di Pulau Rinca lebih menarik karena sedikit lebih teduh dan tingkat probabilitas menjumpai Komodo lebih besar. Sementara di Pulau Komodo akan lebih sulit untuk menjumpai Komodo dikarenakan areanya yang luas dengan populasi Komodo yang lebih sedikit daripada di Rinca. Bagaimanapun juga, kalau Pulau Rinca fotojenik dengan pemandangan padang rumputnya, maka Pulau Komodo juga cukup fotojenik dengan ranting-ranting pohonnya yang romantis. Pada trekking kali ini kami bahkan mencapai bukit dimana kami dapat pemandangan laut dan bentangan hutan berwarna hijau. Sulphurea Hill Top nama bukit itu, diambil dari nama latin burung kakaktua jambul kuning yang dapat ditemui di bukit ini.

Di awal trekking sebelumnya kami telah menjumpai beberapa Komodo yang sedang berteduh di bawah pohon dari teriknya matahari. Komodo merupakan hewan berdarah dingin, dan sama seperti kita, saat siang hari mereka akan memilih untuk tidak banyak bergerak, menghindari terik sinar matahari, dan mencari tempat teduh untuk tidur siang. Karena kali ini dapat memperhatikan Komodo dari jarak cukup dekat, saya perhatikan salah satu Komodo memiliki penanda di tubuhnya. Ternyata penanda itu disematkan oleh ilmuwan dari Eropa yang belum lama ini berkunjung dalam rangka melakukan riset tentang Komodo.

Memang Pulau Komodo dan Rinca terkenal sampai mancanegara bukan hanya sebagai obyek wisata namun juga sebagai subyek riset ilmuwan. Meskipun ukuran dan keberadaan Komodo masih menjadi misteri namun tidak dapat dipungkiri bahwa reptil ini termasuk hewan purba dan merupakan jenis reptil terbesar di dunia. Terlebih lagi Komodo merupakan endemik Flores, tidak dapat ditemukan di belahan lain di dunia maupun Indonesia.

Komodo, yang bernama latin Varanus komodoensis, disebut oleh penduduk lokal sebagai Ora yang diambil berdasarkan sebuah legenda lokal. Ora adalah karnivora dengan makanan utama rusa, babi hutan, kerbau, bahkan Ora lain yang lebih kecil. Ora dapat ditemukan di pinggir pantai sampai dengan pucuk pegunungan, bahkan terkadang berenang di laut dan bisa menyelam sampai kedalam 4.5 m! Walaupun berat Ora dewasa bisa sampai 90kg dan pada siang hari terlihat sangat lamban dan pemalas, namun gerakan mereka sangat cepat bila agresif yaitu bisa mencapai 18km/jam. Jadi walaupun sang Ora sedang tidur dan malas-malasan, kita harus tetap waspada. Dalam keadaan terburuk dimana kita dikejar oleh Ora maka ada 2 hal yang dapat kita coba lakukan: 1) memanjat pohon atau, 2) lari secara zig-zag. Untuk poin 1 hanya bisa dilakukan bila itu adalah Komodo dewasa karena Komodo kecil justru tinggal di atas pohon.

Selain gerakannya yang super cepat, sang Ora memiliki penciuman yang sangat tajam mencapai belasan kilometer. Oleh karena itu sebisa mungkin hindari adanya luka dan darah pada bagian tubuh kita saat kunjungan ke habitat Ora. Walaupun sering disebutkan bahwa bagian paling bahaya dari Ora adalah air liurnya yang mengandung sekitar 60 jenis bakteri, namun tingkat keracunan air liur Komodo masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan. Umumnya luka fatal yang dapat disebabkan oleh Ora adalah sabetan buntutnya yang dapat mematahkan tulang, serta gigitannya yang dapat menyebabkan pendarahan serius. Komodo pernah terlihat dapat menjatuhkan babi hutan dan rusa hanya dengan buntutnya.

Meskipun karakteristik yang disebutkan di atas membuat sang Ora terdengar mengerikan namun pada umumnya mereka akan menghindari pertemuan dengan manusia. Makanan utamanya juga sebenarnya bangkai, dan hanya terkadang memburu mahluk hidup. Bahkan tidak ada bukti bahwa Komodo akan menyerang manusia tanpa adanya provokasi. Tingkat kematian manusia yang disebabkan oleh Komodo sangat kecil bila mempertimbangkan bahwa Komodo hidup berdampingan dengan penduduk kampung lokal, dan setiap tahunnya ada ribuan tamu mengunjungi habitat mereka. Dan harus diakui, mereka tampak sangat imut saat tidur berteduh dari matahari.

 

Beberapa fakta menarik yang saya dapatkan terkait dengan Komodo:

  1. Tahu film King Kong? Film orisinal King Kong terinspirasi oleh ekspedisi seseorang bernama W. Douglas Burden yang berlayar ke Pulau Komodo 1926 dan kembali dengan beberapa spesimen Komodo. Saat itu, Komodo dianggap sebagai hewan yang paling mendekati Dinosaurus.
  2. Berdasarkan penelitian ilmuwan, Komodo adalah hewan berinteligensia tinggi. Beberapa Komodo yang diteliti dapat mengenali dan berlaku diskriminatif terhadap orang, dan memiliki kepribadian yang berbeda-beda.

 

Sayang sekali populasi Komodo terancam punah dan mereka masuk ke dalam daftar merah IUCN  (International Union for Conservation of Nature) Endangered Species List. Salah satu faktor yang mengancam kepunahan Komodo adalah adanya pemburu rusa yang mengurangi jatah makanan utama sang Ora. Jangan sampai populasi Komodo saat ini punah seperti yang terjadi di Pulau Padar. Pulau Padar dahulunya merupakan habitat Komodo namun punah sejak tahun 1930-an, yang diduga disebabkan juga oleh pemburu.

Semoga dengan adanya Taman Nasional Komodo dan meningkatnya kesadaran masyarakat serta wisatawan maka Komodo dan lingkungan sekitarnya dapat tetap terjaga dengan baik untuk dapat diwariskan ke anak cucu kita.

Advertisements