Menari Sawat di Bandara Fakfak

Pagi hari Kamis tanggal 14 Oktober 2010 kami telah siap di bandara Torea Fak-Fak untuk kembali ke Sorong. Ternyata penerbangan kami dibatalkan! Pembatalan disebabkan pesawat yang seharusnya terbang ke Sorong digunakan untuk mengantar rombongan haji ke Ambon. Dan penerbangan berikutnya ke Sorong adalah Sabtu atau Selasa.

Tiba di dalam gedung bandara yang tidak besar ini, suasana terasa ramai dan riuh dengan manusia yang lalu-lalang atau sekadar berkumpul. Sementara kami sibuk mencari dan mengusahakan alternatif untuk mencapai Sorong secepatnya. Pendek cerita, dengan segenap usaha dan doa serta keberuntungan kami berhasil mendapatkan tempat duduk penerbangan ke Ambon, untuk kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke Sorong.

Setidaknya kami hanya akan mundur sehari dari jadwal yang telah direncanakan. Perasaan mulai lega, dan perhatian saya mulai terfokus ke keriuhan yang terjadi di sekeliling saya sedari tadi.

Keramaian di Bandara Torea Fakfak

Keramaian di Bandara Torea Fakfak

Pengunjung bandara terdiri dari rombongan haji yang akan diterbangkan ke Ambon, para keluarga yang melepas kepergian rombongan tersebut, dan beberapa grup yang heboh memainkan alat musik tradisional di sekitar dan di lapangan bandara. Ya, di tengah lapangan terbang.

Beberapa orang membuat lingkaran kecil dan menari bersama dengan meliukkan tangan. Tarian diiringi alat musik tradisional suling, rebana, dan alat menyerupai gendang kecil yang disebut dengan sawat. Sesuai dengan nama alat musik-nya, inilah Tari Sawat khas daerah Fak-Fak.

Keriuhan Tari Sawat

Keriuhan Tari Sawat

Musik pengiring Tari Sawat

Musik pengiring Tari Sawat

Tidak jauh dari situ ada kumpulan lain yang juga memainkan alat-alat musik tradisional serupa namun dengan hentakan dan ritme yang sedikit berbeda. Menambah keriuhan suasana. Ternyata merupakan Tari Andarat. Seperti tari Sawat, nama “Andarat” diambil berdasarkan nama alat musik yang digunakan. Menurut keterangan salah seorang warga, alat musik ini menyerupai sawat namun lebih kecil.

Alat musik dan tarian juga diiringi oleh sorak sorai yang makin meramaikan suasana. Berada di bawah terik matahari tidak mengurangi semangat mereka. Semua orang terlihat gembira, bersemangat, dan tertawa bersama. Pantas saja tarian ini sering dilakukan dalam berbagai acara perayaan seperti kawinan, sunatan, dan dalam kasus ini, melepas kepergian rombongan haji sanak saudara.

Mengamati kegembiraan Tari Sawat dari dekat, tiba-tiba lengan saya digamit oleh seorang bapak, “Mari, ikut menari!”. Hati pun sulit menolak karena beberapa pasang mata gembira di sekitar tertuju pada saya dan mengajak menari bersama. Jadilah saya mencoba ikut menari bersama diiringi tawa dan sorak sorai yang riuhnya makin menjadi karena saya menjadi tontonan orang sekitar.

Suasana riang dan kebersamaan sangat terasa, baik antar pemain alat musik, yang menari, maupun yang hanya meramaikan dengan bersorak. Hanya menjadi penonton pun sulit untuk tidak menganggukkan kepala mengikuti hentakan sorakan, atau setidaknya menyunggingkan senyum.

Di siang yang panas, keriuhan berakhir dengan terbangnya pesawat yang membawa pergi rombongan haji dari bandara Torea Fak-Fak. Pesawat kecil berkapasitas 48pax yang juga memuat kami menuju Ambon.

Menumpang ke Ambon di antara rombongan haji

Menumpang ke Ambon di antara rombongan haji

[Tulisan dan foto dibuat dalam rangka Program Aku Cinta Indonesia (ACI) Detikcom 2010]

Advertisements
Categories: ACI Detikcom, Bahasa Indonesia, Old Post, West Papua | Tags: , , , , | Leave a comment

Post navigation

What are you thinking?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: